Tadinya aku mau menulis sesuatu yang lebih serius, mengingat ini pertama kali laginya aku menulis blog sejak 2023 (dan itupun terbenam di draft, left unsaid), tapi sesuatu yang meledak baru saja terjadi!
Kalau kamu berasumsi ini tentang berita yang mengejutkan, sayangnya, kamu salah.
Kalau kamu berpikir ini juga tetang terror bom yang meledak, untungnya, kamu salah.
Ini adalah cerita tentang percobaan keduaku dalam membuat cimol. C I M O L (atau bagia kamu yang tidak tahu, cimol adalah singkatan dari Aci Digemol). Betul, kudapan gurih yang rencananya kubuat menjadi tragedi ciledug alias cimol meledug dari wajan dan terbang-terbang ke penjuru ruangan seperti granat panas kecil yang mematikan. Belum lagi minyak panas yang memercik dengan membabi buta ke dinding, ke lantai, dan ke perabot malang lain yang berada di lokasi kejadian. Padahal aku hanya membuat kurang lebih 10 adonan yang kumasukan berkala.
Belajar Dari Percobaan Yang Lalu
Pada percobaan pertamaku, karena aku tidak punya terigu, jadi aku hanya menggunakan tepung tapioka, dengan asumsi, kan namanya juga cimol, pasti bahan utamanya tepung aci, jadi tidak ada tepung terigu pun tidak masalah. Dengan mental eksperimen yang tinggi, aku membuat langsung 250gr adonan tepung aci pure dicampur bumbu dan air, dan kamu mau tahu seperti apa hasilnya? seperti slime yang mainan anak-anak itu. dia padat, namun ketika kamu ambil dia meleleh di tanganmu. tapi tidak lengket. "Ah! mungkin memang harus pake terigu agar dia lebih kokoh!" pikirku.
Karena otak kreatif ini tidak boleh disia-siakan begitu saja, aku mencoba berpikir apalagi yang berfungsi sebagai pengeras pengganti tepung terigu. hmmm... tepung... keras... krauk... krispi... AH! tepung ayam crispy! untungnya masih ada tepung ayam crispy di dapur, jadi aku masukan sedikit sedikit dan mencampurnya dengan adonan slime, ehem, maksudku, adonan cimol yang sudah kubuat. Semakin kucampur, semakin tidak jelas...
Dengan percaya diri yang tersisa, aku yang paling anti mubazir, mencoba menggorengnya. Untungnya tidak ada drama yang terjadi pada proses penggorengan. Setelah menggorengnya dalam waktu yang lama, the truth is coming.
Pertama-tama aku coba pegang teksturnya, diluarnya sudah keras. Bagus! Sesuai ekspektasiku. Aku coba membelahnya, ugh, kok keras banget yak... Karna kesusahan, aku potong pakai pisau. Ketika kulihat dalamnya ternyata masih berbentuk tepung, iya tepung, bubuk, aku juga nggak tau kenapa bisa begitu, tapi yang jelas sepertinya tidak edible :')
LAGI-LAGI, karna aku anti mubazir, kita coba dulu lah ya (walaupun berat hati).
Ternyata sesuai ekspektasi juga, TIDAK ENAK.
Selain karena rasanya tidak lain hanya seperti tepung aci yang diluarnya saja yang matang, bumbunya juga kurang berasa, padahal aku sudah yakin mengikuti resepnya dengan benar, minus terigu. Baik, mari coba lagi berpikir positif, mungkin bagian luarnya tidak seburuk itu. Aku keluarkan isiannya yang tepung itu dan coba memakan bagian luarnya saja, dan ekspresiku tepat seperti ekspresi Mr. Bean diatas. Alot, keras, tidak enak, tapi gimana dong udah buat banyak sayang masa dibuang.
Pada akhirnya. Dibuang.
Tapi bagian baik dari eksperimen pertama ini adalah suamiku makan beberapa cimol buatanku tanpa mengeluh, tapi maaf sayang, aku saja tidak suka, apalagi pasti kamu yang lebih pintar masak dan peka mana yang enak dan tidak, tapi kamu tetap makan dan tidak berkomentar :')
Setelah percobaan itu, aku berjanji pada diriku, tidak akan membuat cimol lagi kecuali bahannya lengkap.
Sebelum Kejadian
Sehari sebelum tragedi terjadi, aku dan suamiku main game sampai sahur dan tidak tidur lagi sampai jam dia harus Jum'atan karena tidak mau kelewat. Aku berencana tidur setelah membangunkannya untuk Jum'atan, ternyata dia juga tidak tidur karna tidak bisa tidur. Jadinya aku dan dia main game di pc masing-masing sampai waktunya Jum'atan. Setelah itu, tidur sampai maghrib. Intinya pada 24 jam itu kami hanya tidur 3 jam.
Pada hari sabtunya setelah sahur aku sengaja tidak membangunkannya sampai sore karena kasihan dia kurang tidur. Aku berinisiatif membuat makanan ringan untuk berbuka. Aku lihat ke dapur... Tepung aci ada, tepung terigu ada, garam, merica, penyedap rasa, apa kamu berpikir apa yang aku pikirkan... TENTU SAJA! AKU AKHAN MEMBWAT CCHIIIMORRREEE!!! Akhirnya bahan lengkap unutk masterpieceku. Oke, mari kita lihat lagi resepnya, jam menunjukkan masih jam 5 sore, masih ada waktu!
Resep AA Edoy Andalanque.
Belajar dari percobaan pertama yang menghamburkan banyak sekali adonan, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Karena katanya kita harus menggunakan 250gr tepung tapioka, mari mulai dengan 25gr saja, dicampur 25ml air, dan 3gr tepung terigu dicampur bumbu. Ternyata masih slimy, aku tambahkan lagi tepungnya sampai bentuk adonannya seperti di video. So far so good. Pada minyak yang masih dingin aku masukan beberapa adonan yang sudah ku bentuk, Oh! berhasil! Aku lanjutkan dengan membentuk adonan lain dan mencemplungkannya langsung ke wajan yang kian memanas. Namun, hal yang aku tidak tahu adalah alasan kenapa di video itu dia membentuk semuanya sampai beres baru digoreng adalah.... kalau kamu memasukkan adonannya ketika minyaknya sudah pada tempratur yang tinggi, dia akan...
MELEDAKKKKK
Aku panik namun ada cimol yang masih harus diurus. Bisnis kita belum selesai, Bung! Dengan kebeeranian sebesar biji kuwaci, aku masih membolak balikan cimol walau ada beberapa letupan kecil, namun tidak lama setelahnya 1 cimol terbang ke langit-langit dan minyaknya terciprat ke dinding, ke bajuku, ke lantai, disusul beberapa cimol lain yang meledak dan terbang. Oh no, I'm done with this. Aku matikan kompor dengan jarak antara tangan dan kepala 10 meter karena takut. Lalu lari ke ruang tengah meninggalkan sisa cimol yang masih meledak2 seperti kembang api dari wajan dan jatuh berhamburan ke lantai.
Suamiku terbangun tidak lama setelahnya dan aku beri tahu kalau ada tragedi di dapur. Dia yang bangun dengan lelah, lebih lelah lagi melihat dapur sudah seperti medan tempur. Terlebih dinding dapur yang dicat putih bersih kini bercorak minyak. Tidak estetik. Sebelum dia mengatakan hal yang mungkin akan membuatku menangis (yang mana adalah kebenaran dan kenyataan atas kebodohanku), aku disclaimer dulu padanya bahwa aku ini adalah seorang istri yang mencoba untuk bisa memasak, dengan caption "mohon dimengerti". Dia tidak berkata apa-apa lagi dan hanya menyruhku mengepel. Dia mengangkat cimol yang tersisa dari wajan untuk dikeringkan. TERIMAKASIH ATAS KEBIJAKSANAANNYA, NAMPEYON :'(((
Aku hanya bisa meratapi kesialanku dalam memasak cimol ini sambil mengepel lantai, dengan pesan moral bahwa... kadang tidak apa-apa berinisiatif dan bereksperimen, itu bagus, tapi kadang tidak apa-apa juga mengikuti saran ahlinya yang sudah terbukti berhasil, dalam hal ini AA Edoy yang telah berpengalaman berjualan cimol bertahun-tahun.
Dan tibalah saatnya penjurian. Saat adzan maghrib berkumandang, teh sudah diteguk, mari kita coba cimolnya. hmmm... aku pegang teksurnya, persis cimol yang aku beli di gerobak, aku belah cimolnya, mudah! kenyal! matang! aku bahagia sampai tahap ini, ternyata ketika aku coba makan... ENAK! Setelah drama dapur yang terjadi, sepertinya lumayan terbayar dengan rasanya yang tidak buruk. Suamiku mencoba satu. Dia juga setuju bahwa ini bisa dimakan. Tapi aku merasa agak hambar, maka aku tambahkan garam (yang aku kira) sedikit ditabur diatasnya. Ketika aku coba makan lagi. PUEH! Asin banget T______T aku tambahkan kecap, aku makan, syit, masih asin. Aku suapin ke suami aku, dengan ekspektasi dia akan berkata enak. PUEH! Asin.
Dengan konklusi bahwa cimol ini tentu saja bisa dimakan tapi overwhelmingly asin, dia tidak aku kasih lagi karena tidak mau menyebabkan penyakit yang tidak diinginkan terkait kandungan garam berlebih. Sisa cimol asin itu kemudian aku rendam di air untuk melunturkan garam yang menempel, dan aku makan semua cimol goreng cemplung air itu dengan haru. gagal lagi ternyata hehe.
This Box Earn A Fragment of Wisdom
Bukan aku namanya kalau tidak overthinking tentang apapun yang terjadi, bahkan dari kejadian cimol yang meledak ini.
Pada satu titik dimana aku menuliskan tragedi lucu ini, aku terpikirkan sebuah, apa namanya, hmmm filosofi? kesadaran? pencerahan? apapun itu namanya, intinya aku mendapat kesimpulan sederhana bahwa
Ketika keadaan diluar kendali, chaos, respon buruk orang-orang tentangku, hal-hal yang tidak aku inginkan mungkin bisa saja terjadi kapanpun, bahkan ketika aku berpikir alasan dari hal yang kulakukan sudah benar. Yang hanya bisa aku lakukan paling pertama DIKEMUDIAN HARI adalah melihat lagi, apakah cara ku sudah benar dalam melakukannya? menampilkannya? mengatakannya? kalau masih terjadi respon yang buruk, berarti cara KUbukanlah cara yang baik atau yang tepat untuk melakukannya/ meresponnya / mengartikannya. Jadi yuk, ganti caranya.
Dalam hidup ini ada norma sosial, tata cara berinteraksi, bahkan urutan dalam hal berkomunikasi, tujuannya tidak lain adalah menghindari chaos itu tadi. Jadi kedepannya, aku akan belajar untuk lebih legowo, berhati-hati, dan lebih menghargai. Karena kalau aku jadi lawan bicara KU pun, aku pasti mengharapkan hal yang sama dari lawan bicaraku.
Dan tentu saja aku tidak kapok membuat cimol. Semoga percobaan selanjutnya akan menjadi masterpiece yang bisa aku sajikan pada anakku kelak daripada minta dia minta uang buat jajan cimol, aku akan jadi pedagangnya HEHEHE.
Comments
Post a Comment